Langsung ke konten utama

Makalah Orientalisme dan Oksidentalisme (Perbandingan Agama)

MAKALAH PERBANDINGAN AGAMA
“Orientalisme dan Oksidentalisme”
Makalah Disusun Guna Memenugi Tugas Ujian Tengah Semester
Dosen Pengampu : Imamu Huda, M.Pd.I.


Disusun Oleh :
Istirokhah             (111-14-019)
Titik Solikhati       (111-14-075)

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SALATIGA
2017




Kata Pengantar

Segala puji hanyalah milik Allah Subhanahu Wata’ala yang telah membuka hati kita untuk terus Bertafaqquh Fiddin. Shalawat serta salam Allah Subhanahu Wata’ala semoga senantiasa tercurahkan keharibaan baginda Nabi Agung Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mewariskan hal yang paling berharga demi kebahagiaan ummatnya. Beserta seluruh keluarga, sahabat, dan semua orang yang mengikuti sunnahnya.
Dengan segala pertolongan yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala alhamdulillah tsumma alhamdulillah kami bisa menyelesaikan makalah ini sekaligus untuk memenuhi persyaratan mata kuliah perbandingan agama
Astagfirullah, semoga Allah Subhanahu Wata’ala mengampuni penulis sekira dalam makalah ini terdapat kekeliruan, karna kami menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari sempurna.
Kritik dan saran selalu penulis harapkan dari setiap pembaca agar penulis semakin bersemangat untuk belajar, belajar, dan belajar dimanapun penulis berada.
Akhir kata semoga makalah ini menjadi makalah yang bermafaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi seluruh pembaca, serta menjadi torehan ilmu yang nafi’an mubarakan fiddini, Waddunya, wal akhiroh Amin...


Salatiga, 23 April 2017


Penulis



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Agama adalah salah satu idiolgi yang ada pada diri seseorang bagi orang orang yang menganut agama tersebut, dengan melihat hal ini untuk melakukan kajian tentang perkembangan pemikiran tentang orientalisme dan oksidentalisme bukanlah hal yang mudah. Meskipun kajian Orientalisme telah berkembang cukup lama, namun untuk melacak dinamika intelektualismenya harus melibatkan banyak elemen dan beberapa variabel. Karena meski akar-akar kajian orientalisme relatif sama, namun ekspresi yang ditampilkan oleh pakar-pakar orientalisme ternyata sangat beragam.
Telah terjadi proses pemahaman yang kurang simpatik mengenai Barat dari sebagian umat Muslim sendiri. Di samping faktor trauma akibat aksi kolonialisme klasik, lahirnya modernitas Barat dengan segala konsekuensinya masih dihadapi secara konservatif oleh umat Muslim yang berpandangan fundamentalis.
Tindakan-tindakan radikal serta cara-cara kekerasan yang ditampakkan umat Muslim dalam menghadapi hegemoni Barat, seperti tampak pada demonstrasi radikal di beberapa negeri Muslim dalam menanggapi kartun Nabi, justru menjadi legitimasi bagi gagapnya sebagian umat Muslim yang kehilangan kearifan peradaban. Ketegasan yang arif dan tanpa kekerasan amat sulit ditemui. Sehingga semakin menambah keyakinan Barat atas persepsi Islam yang radikal.
B.     RUMUSAN MASALAH
a.       Apa pengertian dari orientalisme dan oksiedentalisme?
b.      Apa saja pemikiran dari orientalisme dan oksiedentalisme?
c.       Bagaimana Perbedaan antara orentalisme klasik dengan oksidentalisme sekarang?

C.     TUJUAN MASALAH
a.       Mengetahui apa arti dari orintalisme dan oksidentalisme.
b.      Mengetahui pemikiran dari orientalisme dan oksidentalisme.
c.       Mengerahui perbedaan antara orientalisme klasik dengan oksidentalisme sekarang.

























BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Orientalisme
Orientaisme secara bahasa berasal dari kata “orient” yang berarti timur. Secara etnologis orientalisme bermakna “bangsa-bangsa di Timur”, dan secara giografisnya bermakna “hal-hal yang bersifat Timur, yang sangat luas ruang lingkupnya”. Orang yang sangat menekuni ketimuran ini disebut orientalis. Kata “isme” menunjukkan faham tentang suatu faham. Jadi, orientalisme bermakna suatu faham atau aliran yang berkeinginan menyelidiki hal-hal yag berkaitan dengan bangsa-bangsa timur beserta lingkungannya.
Orientalisme adalah gelombang pemikira yang mencerminkan berbagai studi ketimuran yang islami. Yang dijadikan objek studi mencangkup peradaban, agama, sastra, bahasa dan kebudayaan. Gelombang pemikiran ini telah andil besar dalam membentuk persepsi Barat terhadap Islam dan dunia Islam. Caraya ialah dengan mengungkapkan kemunuran pola pikir dunia Islam dalam rangka pertarungan peradaban antara Timur (Islam) dengan Barat (Kristen).[1]
Ismail Jakup menyebutkan bahwa orientalisme terdiri dari kata orental dan isme. Oriental artinya bersifat timur, dan isme adalah kata sambung yang menunjukkan suatu paham, aliran, cita-cita, cara, sistem, atau sikap. Maka orientalisme dapat diartikan sebagai ajaran atau paham yang bersifat Timur, Kritikus orientalisme bernama Edward W Said menyatakan bahwa orientalisme adalah suatu cara untuk memahami dunia timur bedasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia Barat Eropa.
            Orientalis secara umum diartikan “cara atau metode berfikir Barat” masudnya cara Barat dalam melihat sesuatu dan berhubungan bersamanya. Secara khusus orientalisme orientalisme diartikan studi akademik yng dilakukan orang-orang Barat terhadap negara-negara Timur yang dijajah dalam berbagai aspek, misalnya: sejarah dan kebudayaannya, agama dan bahasanya, undang-undang dan politiknya, ekonomi dan kependudukannya. Berangkat dari keunggulan sumber-sumber alam dan kebudayaan timur demi memperoleh kemakmuran Barat, dan untuk memperlancar misi ini dengan mempelajari an membahas serta meneliti secara jelas dengan ilmiyah dan spesifik.[2]
Dari berbagai urian pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa pengertian orientalisme adalah suatu cara untuk memahami dunia timur yang berdasarkan pada  tempatnya yang kusus dalam pengalaman manusia Barat Eropa. Orientalisme merupakan suatu gerakan yang timbul di zaman modern, pada bentuk lahirnya bersifat ilmiyah, yang meneliti dan memperdalam masalah ketimuran.
B.     Tujuan Orientalisme
Becker seorang orientalismee Jerman berpendapat, terdapat sikap permusuhan yang tajam antara Kristen dan Islam. Sebab ketika Islam tersebar pada abad pertengahan, agama ini telah membangun sebuah benteng pertahanan yang kokoh ditengah-tengah upaya penyebaran Kristen. Keudian Islam tersebar keberbagai negara yang sebelumnya pernah bertekuk lutut di bawah kekuasaan Kristen. Merupakan suatu kenyataan bahwa para orientalis senantiasa menyajikan karya tulisnya yang berdasarkan tujuan tertentu. Secara garis besar tujuan tersebut terbagi menjadi tiga bagian yaitu: 1). Untuk kepentingan penjajahan. 2). Untuk kepentingan agama mereka. 3). Untuk kepentingan ilmu pengetahuan.
Akan tetapi tujuan akhirnya adalah    menjadikan agama Islam sebagai dongeng saja, buykan kebenaran yang turun dari tuhan, tetapi hasil dari buah pendapat dan pemikiran semata, yang diambil dari rahib Bukhaira dan yang lainnya, dan diambil dari agama lainnya seperti Yahudi dan Nasrani.[3]
Oleh karenanya para orientalis sangat mencela  pada pondasi (rukun) agama Islam dan sumber-sumbernya yang pokok (Al-Qur’an dan Assunah) yang menjadi landasan hukum dan undang-undang.
Sebenarnya, orientalisme adalah akibat dari gesekan yang terjadi antara Timur dan Barat yang Nasrani pada masa perang salib dengan memulai delegasidelegasi resmi ataupun melalui perjalanan-perjalanan. Pendorong utama yaitu aspek teologi Nasrani yang berambisi menghancurkan Islam dari dalam dengan cara tipu daya dan kecurangan.
Dogma yang dijadikan landasan para orientalis menurut pengamatan Amien Rais, sekurang-kurangnya terdapat enam dogma orientaisme, yaitu; adanya perbedaan mutlak dan perbedaan sistematik antara Barat yang rasional, maju, manusiawi dan superior, dengan Timur yang sesat, irrasional, terbelakang dan inferior. Menurut anggapan mereka, hanya orang Eropa dan Amerika yang merupakan manuia penuh, sedangkan orang Asia Afrika hanya bertaraf setengah manusia.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari orientalisme ada lima bagian yaitu; motif agama, motif penjajahan, motif ekonomi, motif politik danmotif ilmiah.
Terdapat beberapa tokoh dalam orientaisme ini diantaranya adalah: Snouck Hurgonje merupakan seorang ilmuan sekaligus politikus ulung yang lahir pada 8 Februari 1857 di desa Oseterhout yang terletak di Timur Laut kota Breda, Belanda. Meninggal pada tanggal 26 Juni 1936, di Lieden. Berasal dari keluarga pendeta Protestan tradisional, mirip Ortodoks. Tetapi lingkungan pendidikannya bercorak Liberal dan bebas, melalui pendidikan tersebut, pemikiran Snouck Hurgonje tentang Islam disebarkan. Seperti gurunya, Ignaz Goldziher, Snouck Hurgonje mengingkari turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW. Ia bahkan menuuh Al-Qur’an sebagai hasil sanduran Muhammad SAW dari perjanjian lama dan perjanjian baru. Snouck Hurgonje juga melecehkan syariat Islam, bahwa syariat Islam hanyalah cocok untuk peradaban abad pertengahan, bukan untuk abad moodern. Oleh karena itu, poligami, mempermudah ikatan pernikahan, dan sikap tunduk wanita kepada hegemoni laki-laki misalnya menghalangi tercapainya kemajuan keluarga yang normal.[4]
C.     Misi Orientalisme
Sebagaimana yang telah penulis paparan di atas, bahwasanya tujuan dari para orientalis adalah mempelajari semua hal tetang segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia Timur, Islam khususnya tujuannya yaitu adalah untuk melemahkan dan menghancurkan Islam dari dalam melalui para pemeluk Islam itu sendiri.
Diantara tujuan pokok gerakan orientalisme selain yang telah di sebutkan di atas diantaranya adalah sebagai berikut:
a.       Memurtadkan kaum muslimin dari agamanya sendiri, dengan cara memutus dan memecah belah persatuan umat kepada kelompok-kelompok atau golongan yang saling membenci satu sama lain.
b.      Melemahkan rohani umat Islam dan menciptakan perasaan selalu kekurangan dalam jiwanya, dan kemudian membawa mereka kepada sikap pasrah dan tunduk kepada kehendak serta arahan orang-orang Barat.
c.       Mendistorsi ajaran Islam degan cara menutup-nutupi kebaikan dan kebenaran ajarannya, supaya masyarakat awam menganggap bahwa Islam sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman.
d.      Mendukung segala bentuk penjajahan terhadap negara-negara Islam dn melaksanakan segala bentuk perlawanan terhadap Islam itu sendiri.
e.       Memisahkan kaum muslim dari akar-akar kebudayaan Islam mereka yang kuat dengan cara memutarbalikkan pokok-pokok ajarannya dan mecabutnya dari sumber-sumbernya yang asli serta menghancurkan nilai-nilai dasarnya untuk menghancurkan keberlangsungan individu, masyarakat, jiwa dan akal pikiran kaum muslim.[5]
Kajian orientalis pada umumnya terlihat jelas  berkaitan dengan fenomena-fenomena sebagai berikut:
a.       Prasangka buruk terhadap segala hal yang berkaitan dengan Islam, tujuan dan cita-citanya.
b.      Prasangka buruk terhadap tokoh-tokoh Islam, ulama dan pemimpin mereka.
c.       Menyimpangkan nash-nash untuk tunduk sesuai pemikiran mereka, kemudian dengan pongah menerima dan menolak nash sesuka hati.
d.      Menyimpangkan nash-nash dalam banyak hal dengan tujuan tertentu, serta mamahaminya denga semestinya.
Mereka sombong dengan segala referensi yang mereka jadikan rujukan, misalkan: mereka mensahihkan semua yang dinukilkan oleh ad Dumairi dalam kitab al Hayawaan, tidak mempercayai dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al Muatha’.
D.    Prgram Orientalisme
a.       Kristenisasi
Tak diragukan lagi oleh umat Islam, bahwa perang salib belum berakhir, sejak Eropa keluar dari keterbelakangannya di zaman pertengahan mereka menuju ketimur dan menjadikannya daerah-daerah jajahan. Penjajah bermaksud menguasai negeri dan rakyatnya, kemudian menghancurkan Aqidah yang sudah bersemi di hati umat Isla. Melelui Orientalisme, penjajah menanamkan perasaan bahwa Islam berbahaya bagi programnya. Mengetur posisinya dengan propagandanya di kota-kota dan kampung-kampung, membantu mereka dengn uang, atau mendrikan rumah sakit, rumah jompo, dan sekolah-sekolah, sebagai alat jaringan penyesatan.
            Para orientalis bersembunyi dibalik kedok demi melepaskan masyarakat dari kemiskinan dan kebodohan., dengan kedok yang bernama Al Masih. Di samping itu sasarannya yang lain ialah membasmi bahasa Arab dan mencabutnya dari umat Islam, bhasa Al-Qur’an knstitusi Agama. Dalam mencapai tujuannya, penjajah membujuk orang-orang yang ahli bahasa Barat, lantas diberi jabatan dan posisi penting, untuk mendorong semangat umat Islam mempelajari bahasa penjajah, yang sekaligus orang-orang yang sudah asyik dengan bahasa penjajah itu terlengah, atau segan mempelajari bahasa Arab, dengan pengertian bahwa mempelajari bahasa Barat (Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, Rusia dan lain-lain) tidak mempengaruhi aqidah agamnya. Karena itu hampir semua negeri-negeri Islam yang berbahasa Arab pun menggunakan bahasa Asing, mereka hanya tahu bahasa arab di waktu sholat.
b.      Taktik Musuh Islam
Cara-cara propaganda (sesudah perang salib) menguasai Islam, dan setelah gagal mencapai maksudnya, maka mereka mengubah taktiknyaa dengan mengerogoti da’wah degan memusatkan khurafat, bid’ah, tahayul, cerita-cerita dongeng israiliyah/kebatilan kedalam ajaran Islam khususnya, menebarkan faham ateisme di Eropa dan Amerika.
Dengan terbongkarnya rahasia kristen bahwa agama ini tak dapat diterima akal dan tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan, yaitu Trinitasnya, Kristen khawatih kalau Islam menyebar ke Eropa dan Amerika. Justru karena hal tersebut mereka melekukan offensif, merongrong dakwah dan melemaahkan kekuatan agama Islam dari jiwa umat Islam, melemahkan semangat yang mendorong kaum muslimin dalam enghadapi penjajah, yang akhirny terbuktilah peranan Orientalisme sebagai alat dari salibiyah dan penjajah.
c.       Matrealisme
Zaman modern telah diracuni dengan meniupkan faham kebendaan kedalam otak dan pribadi masyarakat, dengan faham yang meningkari nilai kemanusiaan, rasa kasih sayang, penyantun terhadap keluarga, kerabat dan masyarakat. Yang peling berbahaya di dalam aliran matrealisme adalah besarnya nafsu manusia, nafsu selalu masuk kedalam bagian-bagian yang lemah, sehingga manusia itu selalu cenderung pada hal-hal yang cepat untuk mendapatkan kecintaan dan kesuksesannya. Kecenderungan ini dimanfaatkan oleh musuh Islam, untuk memojokkan pemuda melakukan propaganda dakwah. [6]

















A.    Pengertian Oksidentalisme
Oksidentalisme berasal dari kata “accident” (barat) dan ism (paham atau aliran) menunjukkan suatu pengertian paham atau aliran yang berkaitan dengan segala yang berhubungan dengan dunia barat, baik budaya, ilmu dan aspek-aspek lainnya. M Mukti Ali mengartikan oksidentalisme adalah teori dan ilmu tentang agama, kebudayaan dan peradaban barat. Selanjutnya Hanafi mengatakan bahwa oksidentalisme adalah kebalikan dari orientalisme.[7] Jika objek kajian orientalisme adalah timurdan khusus lagi adalah islam, maka dalam oksidentalisme yang menjadi obyek kajian adalah barat.[8]
Menurut Edward Said mengartikan secara umum Oksidentalisme merupakan suatu gaya berfikir yang berdasar pada perbedaan yang dibuat bangsa barat dan timur, hal ini dijadikan titik tolak untuk menyusun teori, deskripsi social dan pertimbangan politik oleh bangsa barat dan timur.[9] Pengertian Oksidentalisme yang dikhususkan dalam keilmuan, menurut Mukti Ali Oksidentalisme yaitu ilmu yang membahas tentang teori dan ilmu agama, kebudayaan dan peradaban barat. Menurut Burhanuddin mendefinisikan yaitu suatu aliran atau paham yang berkaitan dengan masalah barat dan lingkungan berdasarkan pendekatan dan metode ilmiah.
Maka penulis menyimpulkan oksidentalisme merupakan suatu wacana keilmuan yang khas dan belum banyak dibahas baik dalam keilmuan barat maupun timur, hal ini dikarenakan keahlian khusus sebagai disiplin ilmu. Sebagai bentuk wacana keilmuan dalam sejarah yang lebih banyak mengkaji negeri-negeri Arab-Islam (Timur) dan Islam. Pergeseran motivasi studi orientalism eke non-akademis dimungkinkan sejumlah asumsi sebagai berikut.[10]
a)      Kedekatan para orientalis dengan para penguasa pada masa kolonialisme
b)      Dominannya factor teologis (Kristen) para orientalis, sehingga terkadang mereka tidak obyektif dalam studi ketimuran
c)      Konfrontasi anatar Islam dan Kristen maupun antara dunia islam dan barat
d)      Prestasi gemilang yang pernah dicapai islam sehingga untuk beberapa abad ini ia menjadi pusat peradaban dunia.
Sejumlah asumsi sebagian telah disebut diatas sekedar untuk menunjukkan terjadinya pergeseran motivasi objek kajian non-akademis, oleh karena itu tidak berlebihan jiks dikatakan bahwa orientalisme adalah lebih dekat pada studi budaya dunia islam, agama islam dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
B.     Kelahiran dan Akar Sejarah Oksidentalisme
Dari abad ke 17 sampai abad 18 M adalah masa kemunduran bagi dunia Islam. Terjadinya kemunduran Islam pada saat itu juga merupakan awal kemajuan bangsa barat. Yaitu juga menandai peralihan pusat peradaban, dari dunia islam yang sekarang berguru pada dunia barat.[11] Sebagai upaya untuk mengejar ketertinggalandan melepaskan diri dari engkeraman colonial barat, dunia islam, terutama Mesir dan Turki mempelajari kemajuan-kemajuan barat, baik dibidang sains maupun teknologi. Untuk itu, beberapa pelajar dikirim ke barat untuk belajar disana.[12]
Meskipun oksidentalisme lahir ketika dunia Islam dalam keterbelakangan, bukan berarti ia sama sekali tidak punya prospek. Bahkan dapat dikatakan studi oksidental yang lahir ketika Islam terbelakang, berpeluang atau memungkinkan menjadi studi yang obyektif.dasar pemikiran yang menjadi pijakan Hanafi, sehingga ia membangun ilmu baru ini adalah karena ia melihat antara timur dan barat terlalu banyak perbedaan disbanding kesamaan. Meskipun demikian, oksidentalisme dibangun bukan untuk menguasai, tetapi hanya ingin bebas, untuk kemudian dapat menduduki level yang sama antara timur dan barat. Akar sejarah oksidentalisme meliputi beberapa hal diantaranya:
1.)    Oksidentalisme dibangun karena hubungan antara islam an barat
2.)    Studi oksidentalisme terjadi ketika islam berada dipuncak kejayaan dan pusat peradaban dunia
3.)    Pemikiran Yunani yang dapat dikuasai oleh para ulama Islam. Sehingga pola berfikir dan logika mampu membangun berbagai cabang ilmu yang baru.
Proses transformasi pemikiran yuanani dalam islam yang dibagi menjadi dua fase: Islam mengambil alih secara tekstual dan kontekstual yang dilakukan dengan menerjemahkan, Islaam berfikir kritis terhadap pemikiran yunani artinya mengembalikan batasan alamiah, menerangkan materi dan mempunyai karakteristik yang lokal.[13]
C.     Urgensi Oksidentalisme terhadap Pembaharuan Islam
Pembahasan ini akan diawali dengan pengertian pembaharuan Islam, oksidentalisme sebagai responsi terhadap tantangan barat dan urgensi oksidentalisme terhadap pembaharuan Islam.
      1.            Pembaharuan Islam
Pembaharuan Islam berasal dari kata bahasa arab yaitu tajdid artinya memperbarui, adapun kata yang mirip dengannya yaitu istihad berarti upaya dengan sungguh-sungguh untuk menggali suatu hukum tertentu.[14] Dalam perkembangan selanjutnya pembaharuan Islam mengalami perkembangan dan perubahan yaitu:
a)      Upaya untuk menghidupkan kembali tradisi di masa Rasulullah SAW dan para sahabat
b)      Upaya untuk memperbaharui agama lama yang tidak sesuai dengan zaman
c)      Upaya untuk menyesuaikan paham agama Islam dengan pembaharuan ilmu pengetahuan dan teknologi
Dilihat dari segi waktu pembaharuan Islam pada masa modern yaitu periode klasik (islam pada masa penjajahan) dan kontemporer (islam di masa kemerdekaan).
      2.            Oksidentalisme sebagai respon tantangan barat
Abad ke-19 M sampai pada pertengahan abad ke-20 M merupakan masa kolonialisme barat atas negara Asia dan Afrika.[15] Selanjutkan mengantarkan negara barat menjadi negara yang kuat dalam militer sebaliknya dinegara Islam terjadi disintegrasi (wilayah kekuasaan Islam melepaskan diri dan membentuk pemerintahan yang berdiri sendiri kondisi pengetahuan Islam yang pasif dan terjadi ketertinggalan). Pada fase ini tidak terjadi akulturasi melainkan domonasi budaya (dominasi budaya barat atas budaya Islam).
      3.            Urgensi Oksidentalisme terhadap pembaharuan Islam
Oksidentalisme tak dapat terpisahkan dari proyek pembaharuan Islam, karena oksidentalisme sebagai disiplin ilmu yang melakukan kajian terhadap barat secara akademis dan kritis.
a.       Oksidentalisme vs westernisme
Westernisme ialah west yang berarti barat (Eropa) kata sifatnya yaitu western yang berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan bangsa barat baik kebudayaan, pandangan, sikap hidup, nilai dan cita-cita. Dengan demikian westernisme yaitu Negara barat baik dalam penduduk atau kebudayaan.
            Persoalan ini bermula dan terkait dengan imperalisme yaitu ketika Negara barat menduduki beberapa wilayah di benua asia dan afrika. Hal ini terletak pada keinginan Negara barat untuk mempertahankan negara jajahannya. Dengan kata lain westernisme dimaksudkan sebagai upaya untuk mempertahankan kolonialisme. Karena hal ini sebagai budaya.[16]
b.      Oksidentalisme vs Eurosentrisme
Dalam konteks ini, kajian tentang kebaratan yang dapat dijadikan tameng untuk masuknya negara barat signifikasi oksidentalisme terletak pada upaya membangun budaya menusia yang seimbang. Dalam hal ini supaya berperan dalam hal-hal berikut ini:
                                                                                         1.          Menghilangkan Eirusentrisme dan menjelaskan dominasi bangsa eropa.
                                                                                         2.          Mengembalikan kebudayaan barat ke batas wilayahnya.
                                                                                         3.          Mematahkan anggapan kebudayaan menyatukan seluruh bagsa barat dan ambisi budaya barat untuk menjadi peradaban yang modern.
c.       Oksidentalisme vs Antitesis orientalisme
Kelahiran oksidentalisme sebagai antitesa orientalisme dan dibangun atas dasar analog. Hubungan antara barat dengan timur telah lama menjadi hubungan yang tidak seimbang, tidak netral, tidak melengkapi, tetapi sebaliknya relasi tersebut mengambil posisi antara  penguasa dan dikuasai. Dalam hal inilah oksidentalisme berperan untuk sejarah timur dengan barat dengan menjadikan bangsa di dunia hidup dalam satu kebudayaan dan peradaban.
Disini juga oksidentalisme dimaksudkan untuk mentransfer sejarah peradaban menusia secara selektif dari barat ke Islam. Oksidentalisme juga mengkaji pemikiran yang menjadikannya sebagai media dan wacana pemikiran Islam yang telah ada dan tersebut lewat oksidentalisme. Serta oksidentalisme dapat menghilangkan rasa rendah diri umat Islam dihadapan umat barat yang modern.




















Perbedaan antara orentalisme klasik dengan Oksidentalisme sekarang
Perbedaan antara orentalisme klasik dengan Oksidentalisme sekarang adalah perbedaan momen sejarah peradaban Eropa yang menjadi tempat lahirnya Orientalisme klasik dan momen sejarah berikutnya yang merupakan tempat lahirnya Oksidentalisme sekarang. Hal di atas digambarkan sebagai berikut:
  1. Orientalisme lama muncul di tengan ekspansi imprealisme Eropa. Bangsa Eropa pada masa itu sedang mengalami masa kemenangannya setelah berhasil menaklukan Grenade (dulu ibu kota Umawiyah di Andalusia) dan penemuan geografis. Sementara oksidentalis lahir pada masa kemunduran pasca pergerakan Arab. Bangsa Arab pada masa itu sedang mengalami kekalahan pada masa defensif. Karena Oksidentalisme lahir sebagai pembelaan diri, dan sebaik-baik cara bertahan adalah menyerang, membebaskan diri dari rasa takut pada orang lain, dan mengubah perimbangan kekuatan 180 derajat, serta “membalik meja ke hadapan lawan”
  2. Orientalisme muncul dengan membawa revolusi paradigma riset ilmiah atau aliran politik  yang menjadi kecenderungan utama di abad ke-19 terutama positivisme, historisme, saintisme, rasialisme dan nasionalisme. Sementara Oksidentalisme lahir di tengah paradigma penelitian yang sama sekali berbeda dengan kondisi di mana Oksidentalisme lahir seperti metode linguistik, metode analisis eksperimentasi subsisten dan ideologi pembebasan tanah air.
  3. Orientalisme sekarang sudah berubah bentuknya dan dilanjutkan oleh ilmu-ilmu kmanusiaan terutama antropologi peradaban dan sosiologi kebudayaan. Sementara Oksidentalisme masih terlalu dini dan belum mengembangkan bentuk apapun. Jika Orientalisme dimulai pada abad 17 dan Oksidentalisme pada akhir abad ke 20, berarti Orientalisme empat abad lebih tua dibandingkan dengan Oksidentalisme. Dangan jangka waktu empat abad sam dengan masa kebangkitan Eropa modern.
  4. Orientalisme klasik tidak mengambil posisi nertral tetapi banyak didominasi paradigma yang merefleksikan struktur kesadaran Eropa yang terbentuk oleh peradaban modernnya. Paradigma tersebut antara lain historis, analitis, proyektif dan pengaruh dan keterpengaruhan. Sementara kesadaran peneliti Oksidentalisme sekarang lebih dekat kepada posisi netral. Sebab, Oksidentalisme tidak memburu kekuasaan dan hak kontrol. Ia hanya menghendaki pembebasan diri dari pengaruh pihak lain agar ego dapat disejajarkan dengan the other dalam tingkat kedermawan dan kesetaraan.[17]
Jika Orientalime adalah kajian tentang peradaban Islam oleh peneliti dari peradaban lain yang memiliki struktur emosi yang berbeda dengan struktur peradaban yang dikajinya., maka Oksidentalisme adalah ilmu yang berseberangan bahkan berlawanan dengannya. Agenda kedua, sikap kita terhadap tradisi Barat, merupakan pernyataan mengenai kesadaran kita tentang Oksiedentalisme dan materi pokoknya. Dengan demikian bahaya yang ditimbulkan oleh anggapan bahwa peradaban Eropa merupakan sumber segala ilmu pengetahuan, menjadi tempat bergantung peradaban lain, menjadi tempat bersandar bagi eksistensi madzhab dan teori, dapat disingkirkan. Sikap semacam ini telah mengakibatkan penyelewengan peradaban-peradaban non Eropa, kebergeseran dari posisi realistisnya, ketercemburuan dari akarnya, keterikatan dengan peradaban Eropa, dan masuk ke dalam atmosfernya dengan anggapan bahwa peradaban Eropa adalah produk terakhirnya dari eksperimentasi manusia.[18]
Tugas ilmu baru ini adalah mengembalikan emosi non Eropa ke tempat asalnya, menghilangkan keterasingannya, mengaitkan kembali dengan akar lamanya menempatkannya ke posisi realistisnya untuk kemudian menganalisanya secara langsung dan mengambil satu sikap terhadap peradaban Eropa yang dianggap semua orang sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Jika orientalisme secara sengaja mengambil posisi keberpihakan sampai pada niat buruk yang terpendam, maka Oksidentalisme mengutarakan kemampuan ego sebagai emosi yang netral dalam memandang the other, mengkajinya dan mengubahnya menjadi obyek. Ego Oksidentalisme lebih bersih, obyektif dan netral dibandingkan dengan ego orientalisme.  Bahkan kadang-kadang tampak bahwa ego Barat dan syarat objektivitas dan netralitas yang digembor-gemborkannya sejak abad lalu hanya dimanfaatkan untuk menyembunyikan egosentrisme dan keberpihakan Barat seperti terlihat dalam orientalisme.[19]
            Hal yang sangat berguna bagi tradisi Barat bahwa peneliti non Barat melakukan kajian terhadapnya. Hal ini dapat memberikan sudut pandang baru bagi tradisi Barat. Sebab, pengkaji Eropa begitu kenyang dengan tradisinya, dan disamping itu juga memiliki struktur emosi yang sama dengan struktur tradisi Barat. Akibatnya sulit bagi pengkaji Eropa untuk melihat obyek kajiannya yang berupa tradisi Barat, karena tidak adanya jarak antara pengkaji dengan obyek kajiannya. Lain halnya pengkaji bukan orang Eropa. Ia memiliki struktur emosi yang berbeda dengan struktur tradisi Eropa. Sehingga tercipta jarak cukup lebar yang memungkinkan pengkaji melihat obyek kajiannya.
Memang benar, pengkajian tradisi Barat oleh non Barat menyimpan potensi proyektif dari pengkaji terhadap obyek kajiannya. Malah tidak menutup kemungkinan pengkaji lebih banyak melihat apa yang ada di dalam dirinya daripada aya yang ada di dalam kenyataan. Benar juga bahwa pengkaji bias saja tergelincir ke dalam premis-premis retorik atau fanatisme dan menyerang peradaban lain yang menjadi obyek kajiannya hal itu dapat terjadi terutama jika pengkaji pernah mengalami penderitaan akibat penjajahan langsung atau penjajahan cultural yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa. Dalam keadaan seperti ini pengkajian terhadap tradisi Barat akan dimanfaatkan untuk melakukan alas dendam. Tetapi kesasadaran dan orisinalitas pengkaji akan dapat menjaganya dari ketergelinciran ke dalam bahaya-bahaya di atas.
Justru yang menjadi bahaya besar adalah repetisi pengkaji Barat terhadap banyak hal dan akuransi penelitian mereka sampai pada paling kecil, tanpa mampu menemukan obyek satu kesatuan. Hal itu terjadi karena pengkaji Eropa setelah lama terbiasa melakukan kajian dan menemukan kelemahan perspektif universalisme dan meyakini partikularitas, serta ingin membentuk sebuah kesatuan dimulai dari bagian-bagianya yang dapat dicapai dengan cara tertentu dan dengan metodologi empiris.[20]
Oksidentalisme mempunyai tugas membebaskan revolusi modern dari kesalahan-kesalahan menyempurnakan kemerdekaan serta beralih dari kemerdekaan militer ke kemerdekaan ekonomi, politik, kebudayaan dan yang paling utama kemerdekaan peradaban. Selama Barat masih bercokol dalam hati kita sebagai ssumber pengetahuan dan kerangka rujukan yang diandalkan dalam melakukan evaluasi dan pemahaman, maka kita akan tetap menjadi golongan bawah yang membutuhkan pelindung.
Bangsa non Eropa mampu menyuguhkan eksperimentasi  langka dalam sejarah manusia, yaitu eksprerimentasi pembebasan tanah air dari penjajahan dan sekaligus mengubah perimbangan kekuatan dunia. Bangsa-bangsa yang baru merdeka ini muncul sebagai pusat kekuatan baru yang memelihara dunia dari buntut peperangan, dan menyerukan dibangunnya kemanusiaan baru dan prinsip kerja sama internasional yang memberikan keadilan kepada bangsa non Eropa.
Hasil lain eksperimentasinya adalah mengakhiri kontrol Eropa terhadap bangsa non Eropa dan memulai babak sejarah baru bagi umat manusia. Oksidentalisme telah memulai semua itu dan meningkatkan kualitasnya dari sekedar keinginan dan niat baik mnjadi sebuah ilmu pengetahuan yang akurat dan tingkat retorika politik ke tingkat retorika ilmiah. Tugas ini membutuhkan beberapa generasi. Saat ini kita masih mengalami pada dua masa, yaitu generasi kebangkitan Arab yang mengalami transisi dari era lama ke era baru. Kita masih berada pada kerangka filsafat sejarah yang merefleksikan gerakan kesadaran yang terpenjarakan. Kita masih membutuhkan beberapa generasi lagi untuk menjadikan filsafat sejrah sebagai sosiologi yang akurat[21]


























BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Maka pada dasarnya, kebesaran orientalisme dilihat dari segi historisnya dibandingkan dengan oksidentalisme yang masih baru ini dapat kita jadikan ukuran bahwa kedua masih belum selesai. Kedua-duanya tetap berkembang sesuai dengan arah kecendrungan para intelektual dalam mengkaji barat ataupun timur. Dan akhirnya, oksidentalisme turut andil dalam membangun peradaban dunia melalui transformasi lintas-kebudayaan melalui sikap saling menghargai dan egaliter. Di sinilah kerangka rekonstruksi dialog Islam dan Barat mesti diletakkan. Tentunya, persoalan ini menjadi tangung jawab kita bersama untuk membangun peradaban baru yang lebih baik dan dinamis.

















DAFTAR PUSTAKA

Sastra, Ahmad. 2014. Filosofi Pendidikan Islam. Bogor: Darul Muttaqin.
Ali, Mukti. 1992. Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia. Bandung: Mizan.
Kastolani. 2009. Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia. Salatiga: STAIN Press.
Watt, Montgomery. 1994. Study Islam Orientalis Dalam Islam. Bandung: Pustaka
Hoesen, Seyyed Nasr. 1977. Ilmu Ushul Fiqih. Kairo. Dar Al Qalam.
Roimein. 1956. Era Eropa, Peradaban Barat Sebagai Penyimpangan Dari Pola Umum. Bandung: Gunaco.





[1] Ahmad Sastra, Filosofi Pendidikan Islam, (Bogor: Darul Muttaqin Press, 2014), hlm.397.
[2]Ahmad Sastra, Filosofi Pendidikan Islam, (Bogor: Darul Muttaqin Press, 2014), hlm. 396.
[3] Ahmad Sastra, Filosofi Pendidikan Islam, (Bogor: Darul Muttaqin Press, 2014), hlm.400.
[4] Ahmad Sastra, Filosofi Pendidikan Islam, (Bogor: Darul Muttaqin Press, 2014), hlm. 401.
[5] Ahmad Sastra, Filosofi Pendidikan Islam, (Bogor: Darul Muttaqin Press, 2014), hlm. 406.
[6] Ahmad Sastra, Filosofi Pendidikan Islam, (Bogor: Darul Muttaqin Press, 2014), hlm. 406-408.
[7]A. Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1992), hlm. 45.
[8]Kastolani, Dari Orientalisme Ke Oksidentalisme, Cet 1. (Salatiga: STAIN Salatiga Press, 2009), hlm 31-32.
[9]Montgomery Watt, Study Islam Orientalis Dalam Islam, Cet 1 (Bandung: Pustaka, 1994), hlm. 3.
[10]Ibid, hlm. 33-34.
[11]Kastolani,  Dari Orientalisme Ke Oksidentalisme, hlm 31-32.

[12]Seyyed Hoesen Nasr, Menjelajah Dunia Modern, (Bandung: Mizan, 1994), hlm 125.
[13]Ibid, hlm 41-46.
[14]Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqih, Cet 1, (Kairo: Dar Al Qolam, 1977), hlm 79.
[15]Roimein, Era Eropa, Peradaban Barat Sebagai Penyimpangan Dari Pola Umum, Cet 1, (Bandung: Gunaco, 1956), hlm, 138.
[16]Kastolani,  Dari Orientalisme Ke Oksidentalisme, hlm, 61-67.
[17] Ibid., hal. 27-28
[18] Ibid., hal. 28.
[19] Ibid., hal. 29.
[20] Ibid., hal. 30.
[21] Ibid., hal. 32-33

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Urgensi Pembelajaran Qawa’id Al-I’lal dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Kitab Kuning Santri PPTI Al-Falah Salatiga

Urgensi Pembelajaran Qawa’id Al-I’lal dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Kitab Kuning Santri PPTI Al-Falah Salatiga Oleh: Nurul Humaidah (53040290031)   Kitab kuning merupakan ciri khas pondok pesantren terutama dalam pesantren salaf. Metode dalam menterjemahkan kitab kuning terkesan unik, banyak disoroti oleh kalangan di luar pesantren. Pondok pesantren salaf mempunyai metode tersendiri dalam mengajarkan agama Islam terhadap santri, yaitu metode memaknai kitab kuning dengan Arab pegon, sorogan, dan bandongan. Ketiga istilah ini sangat popular di kalangan pesantren, terutama yang masih menggunakan kitab kuning sebagai sarana pembelajaran utama. Metode-metode Pengajaran Kitab Kuning Terhadap Santri Pertama, metode memaknai kitab kuning dengan Arab pegon yaitu metode proses belajar mengajar yang ada di pesantren dari kyai membacakan, menerjemehkan, dan menerangkan isi dari kitab kuning tersebut. Sedangkan, santri mendengarkan, menyimak, dan mencatat apa yang disampaikan oleh kyai ...